Kamis, 21 Januari 2016

Aku Pernah Kecewa, Pernah Terluka Tapi Aku Percaya Itu Adalah Cara Tuhan Untuk Membuatku Dewasa


Di jalan ini, aku tergugu menatap kedepan. Aku tahu kehidupan tak selalu mudah seperti yang sebelumnya ku pikirkan. Saat aku harus dituntut berpikir bagaimana cara agar tetap bertahan, saat pertahananku mulai lemah dan goyah dengan kedaan, Saat keadaan benar-benar tak memberikanku pilihan, saat cinta tak berniat memberiku ruangan. Yah cinta, cinta yang perlahan-lahan mengikis kekuatan, cinta yang diam-diam menyelusup mengendurkan pertahanan, cinta yag bersihkeras tak ingin berdamai dengan kedaan.
Aku hanya bisa terdiam, mendengarkan bait-bait hatiku yang bungkam. Aku kalah, aku tak bisa berdamai dengan hatiku. Ia merajuk dan membuatku kelabakan. Apa kau pernah patah hati? Bagaimana rasanya? Apakah sakit, atau bagaimana ? . Apa kau pernah terluka? Bagaimana wujudnya, apakah berdarah ? Apa rasanya sakit ? Apa kau memiliki obatnya? . Aku terluka karena pikiranku sendiri, setiap simpul perhatian yang aku artikan sebagai simpul cinta dan ternyata bukan. Aku terluka dengan berbagai ekpektasi yang sebenarnya bertolak belakang dengan kenyataan. Aku salah menerjemahkan, seharusnya pengalaman menjadikanku lebih berhati-hati dalam menilai. Ternyata tidak semua orang ingin tinggal, ada yang sebenarnya ingin tinggal tapi tiba-tiba melarikan diri. Meski aku menyediakan tempat, aku tak bisa menahan seseorang untuk tidak pergi. Seharusnya aku tidak membuka hati begitu saja.
Luka yang datang silih berganti, membuatku terbiasa . Kekecewaan yang aku buat sendiri, memberikanku kekuatan. Aku pernah kecewa, Aku pernah terluka tapi apakah aku harus menangis dan menyesali semua? Apa aku harus mengutuk semua kedaan dan takdir yang tak pernah memihak padaku? Apa aku harus marah yang entah akan tertuju pada siapa? Tidak, aku tidak sebodoh itu. Aku pernah kecewa, pernah terluka tapi aku percaya itu adalah cara Tuhan untuk membuatku dewasa.
from hipwee by Reni Aryanti

Jangan Pernah Menemuiku Saat Kau Bosan, Aku Bukan Penghibur yang Bisa Memberimu Kesenangan


Dari awal, aku selalu mencoba memahami dan mengerti bagaimana keadaanmu. Aku tahu kau sangat sibuk dengan urusan masa depanmu, dan tugas-tugas yang harus diselesaikan sebelum deadline. Aku paham akan hal itu, karena aku juga mengalaminya. Meski begitu aku selalu berusaha untuk mengabarimu, bahkan sampai saat ini, detik ini pun masih kutoreh tentangmu disini. Apa kabar wahai lelaki penikmat keindahan yang sempat menyentuh hatiku? Apa kau disana pernah memikirkanku, pernah menemuiku dalam mimpimu, atau aku sudah lenyap dan hangus dalam ingatanmu yang tertepa angin musim salju.
Masih ku ingat kau seolah memberiku keyakinan bahwa kita akan bisa berjalan bersama meski diambang keabu-abuan waktu akan masa depan yang sama-sama tak pernah kita tahu. Ku tanamkan keyakinan itu. Sampai akhirnya kau tiba-tiba mengaburkan semua, dan perlahan pasti punggungmu melenggang pergi menjauhi pandangan mataku. Kau membuat kebingungan yang bahkan aku tak pernah benar-benar tahu dimana letak kesalahanku.
Dari sekian banyak yang datang menghampiri, kaulah yang sempat memberiku keyakinan penuh untuk kembali merasa mekarnya hati setelah lama layu mengering dan mati suri. Tapi sekarang semua sudah berubah 180 derajat. Kutemuimu hanya mengintip dari balik pandangku. Sebegitu sulitkah mengakui jika kau merindukanku?. Bila saja kau lebih sederhana mendefinisikan rindumu dan mengungkapkannya di depan mataku. Maka sudah pasti kerinduanmu akan terbalas karena aku juga merasakan hal yang sama.
Bukankah kau elang yang gagah perkasa, yang selalu berani terbang mengangkasa tanpa pernah takut terjatuh. Aku mengerti keadaanmu, bagaimana orang-orang diluar sana berharap besar terhadap keberhasilanmu. Dan aku pun yakin kau pasti bisa melaluinya dengan gemilang. Aku juga tak menuntut banyak padamu untuk selalu menemuiku di sela waktumu, aku hanya ingin kejelasan. Bagaimana rasanya rindu yang membumbung ingin meledak? Aku sudah merasakan kepedihan rindu yang tak terbalas.
Setelah aku puas menangisi kerinduan hingga kopiku berubah asin dan tak lagi pahit, setelah ku tak pernah menanggalkan harap untuk menemuimu di malam hari hingga terjaga sampai pagi, lalu kau tiba-tiba hadir lagi menanyakan kabar dan mengatakan kau rindu aku. Seperti inikah caramu membalas rindu? Itu bukan rindu, sama sekali tak kulihat ada sorot kerinduan dari matamu. Kau hanya bosan dan memilih menemuiku berharap kau mendapat kesenangan sesudahnya. Kau salah, karena aku bukanlah badut, aku bukanlah penghibur yang bisa memberimu kesenanangan dan membuatmu puas tertawa setelahnya. Maaf akan hal itu.
from hipwee by Syanaz

Karena Menikah Bukan Cuma Perihal Kapannya, Tapi Sudah Tepatkah Orangnya


Mulai dari sepupu atau teman sekolah yang menikah lebih dulu serta pertanyaan kapan dan dengan siapa selalu saja mengganggu. Tak jarang terlintas dalam pikiran, yang menjalani saya kenapa yang lain harus sibuk-sibuk menggerutu? Tak lupa juga mama papa yang selalu bilang ingin punya cucu. Kadang rasanya ingin lari saja dari kenyataan atau bersembunyi sejauh-jauhnya agar tak perlu sering-sering bertemu dengan mereka yang benar-benar tak tahu apa isi kepala dan hatimu. 
Puluhan resepsi yang kalian hadiri, terkadang memancing tanda tanya dalam hati yang belum juga bertemu dengan jawabannya. Saya kapan yah? Dengan orang seperti apa atau pesta yang bagaimana? Kamu benar-benar tak tahu harus pergi kemana untuk bisa tahu jawabannya apa. Hanya bisa berdoa. Dalam hati dengan diam bertanya pada Yang Kuasa. Kamu jadi lebih sering membicarakan hal ini dalam rentetan doa.
Padahal saat ini, sendiri juga bukan perkara sulit untuk kamu lewati. Kamu mandiri dan kuat menghadapi hidup meski tanpa kisah cinta yang tak jauh dengan drama. Kamu bahagia meski kemana-mana tak ada laki-laki yang menemani. Kamu bebas merdeka menjalani hidup sesuai dengan rancangan yang kamu bina. Tapi, pertanyaan kapan nikah dari mereka yang tak tahu apa-apa tak pelak justru berperan penting melahirkan rasa khawatir. Kadang kamu justru mulai merasa ragu pada diri sendiri. Apa yang salah dengan diri ini. Kenapa tak kunjung dihadirkan dia yang pada hatinya cinta dapat kamu sandarkan sampai ujung usia.
Andai mereka mau sedikit saja santai dan menerima. Mungkin kamu tak harus bingung-bingung berhadapan dengan kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Memangnya wanita mana yang tak ingin menikah? Wanita mana yang tak ingin menghabiskan hidupnya dengan pria yang nama belakangnya disandang olehmu selamanya? Wanita mana yang tak ingin jadi sempurna dengan panggilan mama? 
Harapanmu sama seperti wanita pada umumnya bukan? Tak ada yang berbeda hanya waktunya saja yang belum tiba. Hanya mungkin Tuhan yang belum berkata ya. Masih ada sedikit waktu yang harus kamu gunakan untuk menunggu. Memperbaiki diri dan menyiapkan hati bagi dia yang restu Tuhan telah dikantongi. Jadi tak perlu khawatir tentang apapun yang orang lain katakan atau tentang seperti apapun penilaian mereka pada caramu memandang hidup. 
Karena pernikahan bukan tentang sekarang atau kapan-kapan. Tapi tentang menghabiskan sisa hidupmu bersama dia yang memang dipilihkan Tuhan. Jadi jangan khawatir. Bukannya terlambat, kamu hanya menunggu waktu yang tepat. Dengan dia yang senyum dan restu Tuhan bisa kalian dapatkan. Dengan dia yang akan memperjuangkan bukan hanya ingin diperjuangkan. Padanya yang saat bersama deg-degan mu tak juga menghilang. Kamu dan dia yang sama-sama bangga karena bisa saling mendapatkan. 
Bukankah jauh lebih menyenangkan kalau kamu bisa bertemu, jatuh cinta dan diikat pernikahan dengan orang yang tak main-main dengan perasaan. Selamanya memilih bertahan tanpa ketentuan. Disampingmu dengan setia selalu cinta tanpa syarat apa-apa. Kalau begitu biarkan Tuhan mengambil waktumu lebih panjang dari yang kamu inginkan. Agar bisa dengan matang cintamu dipersiapkan. 
Jadi bersabar sajalah. Karena memang pada hakekatnya jalan Tuhan tak dapat dengan mudah diselami begitu saja oleh setiap hati. Yang pasti semua yang terukir dalam tanganNya, tak pernah berakhir tanpa keindahan. Dia setia dan tak akan meninggalkan. Kamu dan jodohmu, Dia punya aturan sendiri untuk mempertemukan. Jadi jangan bimbang. Karena Dia tak pernah ingkar janji maka harusnya tak ada alasan untukmu berhenti mempercayai. Entah kapan pernikahanmu datang ingat saja, bahwa Tuhan selalu punya waktunya sendiri. Tak pernah terlalu cepat apalagi terlambat. Jadi tetaplah bersabar.
from hipwee by Rumondang Kristiani Elika Manurung

http://www.hipwee.com/narasi/jika-mencintaimu-lagi-ternyata-akan-sesakit-ini-maaf-aku-mundur/

ini hati bukan halte bus

038849300_1448500324-patah_hati


Kehadiranmu memberi arti sendiri bagi diriku, karena kau hadir disaat aku sedang menikmati masa kesendirianku hingga lupa seperti apa rasanya dicintai dan diberi perhatian-perhatian kecil nan manis dari seseorang yang special. Kau hadir begitu saja. Awalnya biasa namun semakin lama semakin aku merasa nyaman. Aku bahkan merasa mungkin kamu adalah jawaban dari segala doa ku selama ini.
Hampir tiap saat kabar darimu tak pernah tak nongol di ponselku. Kita selalu mengobrol apa saja. Berbagai topic mulai dari yang tidak penting sampai umm ya obrolan tentang impian dimasa depan. Rasanya bahagia menemukan seseorang yang mempunyai kesamaan dengan diri kita.
Aku bahkan tak tau sejak kapan aku mulai tersenyum-senyum sendiri saat membaca setiap balasan chattingmu, tertawa mendengar setiap leluconmu yang mungkin bagi orang lain terasa garing, berdegup salah tingkah melihat senyumanmu, aku pun tak tau sejak kapan aku merasa ada yang hilang saat kau tak muncul hanya sekedar say hello. Ya, aku begitu khawatir kau kenapa-kenapa. Aku bahkan tak tau sejak kapan aku mulai merindukanmu. Yang aku tau, aku begitu nyaman berada di sampingmu.
Kalau kata orang, aku sedang jatuh cinta. Ah entahlah, aku merasa ini terlalu cepat. Aku pun tak begitu yakin apa kau merasakan hal yang sama. Aku pun tidak ingin menaruh harapan terlalu dalam kepadamu, biarlah berjalan seperti ini.
Meskipun tak ingin menaruh harapan terlalu dalam, tapi perlakuan-perlakuan manis dari mu dan intens nya waktu mempertemukan kita mampu meruntuhkan dinding pertahananku untuk tidak terjebak terlalu dalam dengan perasaanku. Aku semakin nyaman dan semakin tidak ingin jauh darimu.
Tapi kenapa disaat aku sedang berbunga-bunga, kenapa disaat itu juga kamu menghilang. Alasanmu sibuk dan sibuk. Awalnya aku memaklumi namun semakin lama kau tidak memberi kabar sama sekali. Kau sangat berbeda dengan dirimu yang dulu. Salahku tak pernah meminta kepastian darimu tentang hubungan kita selama ini, karena katamu kita ini sudah dewasa tak perlu lah mengemis status. Salahku juga terlalu dalam percaya padamu. Aku mencoba sedikit merelakan dan melupakanmu. Mencoba menata hatiku lagi. Tapi disaat hati ku sudah mulai tertata, kau datang lagi memberikan perhatian-perhatian manis. Ah sepertinya kau tidak tau, wanita mudah sekali luluh dengan kata manis dari pria yang dia sayangi. Atau mungkin sebaliknya, kau tau tentang hal itu dan memanfaatkannya. Datang kembali disaat wanita-wanitamu yang lain tidak memperdulikanmu. Kemudian pergi saat kamu bosan. Menyebalkan memang, apa kau tak pikir hati ini bukanlah seperti halte bis yang kau datangi sebentar terus kau tinggalkan lagi sesuka hatimu. Please, ini hati bukan tempat transit.
Mungkin sebaiknya aku mundur dari hidupmu. Menghilang seperti saat kita tidak kenal. Kalau boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak mengenalmu sama sekali daripada harus melupakanmu.
Seandainya saja aku tau jika pada akhirnya kau hanya sekedar singgah bukan menetap mungkin aku tidak akan menaruh rasa ini padamu~
from hipwee by  Rahayu Budiningsih

Sudah Dewasa Bukan? Teruskan Jika Menurutmu Benar, Berhentilah Jika Menurutmu Salah.

 tumblr_inline_mhtv6hLK9n1qz4rgp


"Tidak bisa ya menjawab pertanyaanku ? Susah ya ? Coba tanyakan kehatimu, pentingkah aku buat kamu ? kalau memang penting tak akan sesusah ini kok menjawabnya. Kamu pasti bisa menjawab tanpa membutuhkan waktu lama "
Setidaknya aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu, walau ku tau kau tak lagi menginginkanku untuk tetap berada disisimu . Aku tak pernah menyesal untuk merubah diriku menjadi seperti yang kau mau walau kutau itu bukanlah kepribadianku selama ini.
aku tau kau tak pernah mencintaiku lagi seperti dulu, aku bisa merasakannya dari setiap polah tingkahmu ketika berada di dekatku. Ada saja alasan yang selalu kau berikan kepadaku setiap aku mengajakmu untuk bertemu. Mungkin kau tak lagi merindukanku seperti aku yang hingga detik ini selalu merindukanmu, satu detik saja tak bertemu denganmu rasa kerinduanku sungguh sangat memuncak dalam batinku. 
"bosan ya sayang ? apa kau butuh suasana baru dalam hubungan kita ? mari kita perbaiki, tapi jangan sampai kebosanan membuatmu meninggalkanku"
aku tau kebosanan telah menggelutimu, menyelimuti seluruh perasaanmu padaku, sehingga apapun yang aku lakukan, apapun yang aku perjuangkan tak pernah terlihat dimatamu. Benar atau salah, baik ataupun buruk tak akan terlihat sempurna di matamu. 
Kemarahan selalu menghinggapimu. Emosi selalu mengikuti langkahmu setiap kau melihat keberadaanku. Masalah yang seharusnya tidak ada kau buat menjadi ada, masalah yang kecil kau buat menjadi sangat besar hingga kau menumpahkan seluruh kemarahanmu kepadaku. Taukah kau bahwa aku sakit melihatmu seperti ini, aku menangis sendiri menerima perlakuan kasarmu kepadaku, tapi aku mencintaimu, dan aku tak bisa membalas kemarahanmu.
"lakukan apa yang ingin kau lakukan, kau sudah cukup sangat dewasa, kau sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Teruskan jika menurutmu benar, dan berhenti jika menurutmu salah"
aku terdiam, aku memilih untuk menjauh. Bukan karena aku menyerah pada keadaan, tapi aku tau jika aku mendekatimu, semua perkataanku hanya akan menjadi sampah untukmu.
from hipwee by Wisha Safitri Darmayanti

Manusia Memang Harus Jatuh Dulu. Agar Berdiri di Kaki Sendiri Bukan Lagi Kemustahilan


Siapapun di dunia ini, pasti hidup karena beberapa harapan yang digantungkan serta diciptakan oleh dirinya sendiri. Entah harapan menggapai cita-cita agar hidup lebih baik kedepannya, atau harapan yang digantungkan kepada seseorang yang dianggap mampu menghormati dan menghargai kita. Namun tidak semua orang pantas kita libatkan dalam garis takdir yang kita gambar komplit bersama dengan doa yang dilantunkan setiap waktu kepada yang maha pencipta.
Mata manusia memang tidak di setting untuk bisa melihat bagaimana kehendak tuhan bekerja, kita hanya bisa tahu apa yang memang bisa dipandang mata tanpa bisa mengetahui serta menebak hal apa lagi yang tuhan rencanakan di garis takdir yang kita gambar.
Kita memang menggambar garis sendiri, dan bertanggung jawab penuh atas hidup kita sendiri, namun perlu disadari bahwa yang menggerakkan hati serta pikiran adalah tuhan, mungkin tidak jarang bahwa keinginan dan kebutuhan selalu bertabrakan ingin mendapat prioritas. Namun manusia tidak terlalu peka dengan apa yang di butuhkan, kita terlalu fokus dengan beberapa hal yang kita ingin. Percaya atau tidak keinginan bukanlah keharusan yang perlu di capai hari ini juga, jika merasa itu sebuah keharusan, kita telah mengikuti nafsu yang sebenarnya bisa di rem.
Fokus dengan keinginan yang menggebu menjadikan kita lupa akan esensi sebagai manusia biasa yang kebutuhannya lebih utama perlu di capai. Dalam hal pasangan, kita sering menaruh harapan pasangan ideal dengan segala syarat dan tetekbengek yang kita buat sendiri tanpa berkaca tentang kualitas diri sendiri.
Sebenarnya manusia tidak perlu lagi bertanya, mengapa tuhan selalu saja tidak menghendaki kita, dengan seseorang yang sudah kita targetkan harus menjadi pasangan hidup kita hingga tua nanti. Manusia boleh berencana se detail mungkin dalam hal apapun, namun dilarang lupa bahwa ada tuhan yang selalu mengingatkan mana yang baik dan  mana yang buruk.
Langsung saja...
Jika kita mencintai dan mengharapkan seseorang namun tidak juga dipersatukan, silakan berpikir ulang. Apa yang membuat halangan tersebut terus tumbuh hingga kita tidak pernah bertemu di satu garis yang sama dengan dia. Jika ditelaah lebih dalam lagi, bisa saja kualitas diri nya yang memang belum pantas bersanding dengan kita. Atau sebaliknya. Betapa tuhan sangat baik sudah bersedia mengingatkan hambanya lewat teguran, kekecewaan dan kesedihan yang dirasa. Tidak jarang kita mengumpat dan merasa tuhan tidak adil karena membiarkan kita kecewa dengan segala keadaan hidup yang terjadi. Padahal, tuhan sedang menyelamatkan kita dari jurang yang bisa kapanpun menelan kita hidup-hidup. Namun lagi-lagi manusia tidak sampai berpikir sejauh itu. Semua manusia termasuk saya selalu ingin yang instan. Semua perasaan harus berbalas, begitu lah pikir kita yang masih awam.
Hidup ini pembelajaran. Kita tidak mungkin bisa belajar dari kebahagiaan. Karna luka adalah pembelajaran hidup yang paling setia mengajarkan. Manusia memang harus jatuh dulu untuk paham bahwa hidup ini tidak semudah bertepuk tangan. Kita harus kehilangan 1 tangan terlebih dahulu agar tahu betapa sulitnya mengeluarkan suara tepuk tangan dengan angin.
Namun kita terlalu bodoh jika harus kehilangan dulu baru belajar. Perbaiki yang ada, lindungi yang telah menghargai, jaga kepercayaan, hindari menuntut tuhan untuk mengikuti mau kita. Biarlah tuhan membawa kita kemanapun di mau, kita hanya perlu terus berprasangka baik dan mencoba menggambar garis hidup sesuai aturanNya.
from hipwee by ayu rhaudhotul akmalia