Kamis, 21 Januari 2016

ini hati bukan halte bus

038849300_1448500324-patah_hati


Kehadiranmu memberi arti sendiri bagi diriku, karena kau hadir disaat aku sedang menikmati masa kesendirianku hingga lupa seperti apa rasanya dicintai dan diberi perhatian-perhatian kecil nan manis dari seseorang yang special. Kau hadir begitu saja. Awalnya biasa namun semakin lama semakin aku merasa nyaman. Aku bahkan merasa mungkin kamu adalah jawaban dari segala doa ku selama ini.
Hampir tiap saat kabar darimu tak pernah tak nongol di ponselku. Kita selalu mengobrol apa saja. Berbagai topic mulai dari yang tidak penting sampai umm ya obrolan tentang impian dimasa depan. Rasanya bahagia menemukan seseorang yang mempunyai kesamaan dengan diri kita.
Aku bahkan tak tau sejak kapan aku mulai tersenyum-senyum sendiri saat membaca setiap balasan chattingmu, tertawa mendengar setiap leluconmu yang mungkin bagi orang lain terasa garing, berdegup salah tingkah melihat senyumanmu, aku pun tak tau sejak kapan aku merasa ada yang hilang saat kau tak muncul hanya sekedar say hello. Ya, aku begitu khawatir kau kenapa-kenapa. Aku bahkan tak tau sejak kapan aku mulai merindukanmu. Yang aku tau, aku begitu nyaman berada di sampingmu.
Kalau kata orang, aku sedang jatuh cinta. Ah entahlah, aku merasa ini terlalu cepat. Aku pun tak begitu yakin apa kau merasakan hal yang sama. Aku pun tidak ingin menaruh harapan terlalu dalam kepadamu, biarlah berjalan seperti ini.
Meskipun tak ingin menaruh harapan terlalu dalam, tapi perlakuan-perlakuan manis dari mu dan intens nya waktu mempertemukan kita mampu meruntuhkan dinding pertahananku untuk tidak terjebak terlalu dalam dengan perasaanku. Aku semakin nyaman dan semakin tidak ingin jauh darimu.
Tapi kenapa disaat aku sedang berbunga-bunga, kenapa disaat itu juga kamu menghilang. Alasanmu sibuk dan sibuk. Awalnya aku memaklumi namun semakin lama kau tidak memberi kabar sama sekali. Kau sangat berbeda dengan dirimu yang dulu. Salahku tak pernah meminta kepastian darimu tentang hubungan kita selama ini, karena katamu kita ini sudah dewasa tak perlu lah mengemis status. Salahku juga terlalu dalam percaya padamu. Aku mencoba sedikit merelakan dan melupakanmu. Mencoba menata hatiku lagi. Tapi disaat hati ku sudah mulai tertata, kau datang lagi memberikan perhatian-perhatian manis. Ah sepertinya kau tidak tau, wanita mudah sekali luluh dengan kata manis dari pria yang dia sayangi. Atau mungkin sebaliknya, kau tau tentang hal itu dan memanfaatkannya. Datang kembali disaat wanita-wanitamu yang lain tidak memperdulikanmu. Kemudian pergi saat kamu bosan. Menyebalkan memang, apa kau tak pikir hati ini bukanlah seperti halte bis yang kau datangi sebentar terus kau tinggalkan lagi sesuka hatimu. Please, ini hati bukan tempat transit.
Mungkin sebaiknya aku mundur dari hidupmu. Menghilang seperti saat kita tidak kenal. Kalau boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak mengenalmu sama sekali daripada harus melupakanmu.
Seandainya saja aku tau jika pada akhirnya kau hanya sekedar singgah bukan menetap mungkin aku tidak akan menaruh rasa ini padamu~
from hipwee by  Rahayu Budiningsih

Sudah Dewasa Bukan? Teruskan Jika Menurutmu Benar, Berhentilah Jika Menurutmu Salah.

 tumblr_inline_mhtv6hLK9n1qz4rgp


"Tidak bisa ya menjawab pertanyaanku ? Susah ya ? Coba tanyakan kehatimu, pentingkah aku buat kamu ? kalau memang penting tak akan sesusah ini kok menjawabnya. Kamu pasti bisa menjawab tanpa membutuhkan waktu lama "
Setidaknya aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu, walau ku tau kau tak lagi menginginkanku untuk tetap berada disisimu . Aku tak pernah menyesal untuk merubah diriku menjadi seperti yang kau mau walau kutau itu bukanlah kepribadianku selama ini.
aku tau kau tak pernah mencintaiku lagi seperti dulu, aku bisa merasakannya dari setiap polah tingkahmu ketika berada di dekatku. Ada saja alasan yang selalu kau berikan kepadaku setiap aku mengajakmu untuk bertemu. Mungkin kau tak lagi merindukanku seperti aku yang hingga detik ini selalu merindukanmu, satu detik saja tak bertemu denganmu rasa kerinduanku sungguh sangat memuncak dalam batinku. 
"bosan ya sayang ? apa kau butuh suasana baru dalam hubungan kita ? mari kita perbaiki, tapi jangan sampai kebosanan membuatmu meninggalkanku"
aku tau kebosanan telah menggelutimu, menyelimuti seluruh perasaanmu padaku, sehingga apapun yang aku lakukan, apapun yang aku perjuangkan tak pernah terlihat dimatamu. Benar atau salah, baik ataupun buruk tak akan terlihat sempurna di matamu. 
Kemarahan selalu menghinggapimu. Emosi selalu mengikuti langkahmu setiap kau melihat keberadaanku. Masalah yang seharusnya tidak ada kau buat menjadi ada, masalah yang kecil kau buat menjadi sangat besar hingga kau menumpahkan seluruh kemarahanmu kepadaku. Taukah kau bahwa aku sakit melihatmu seperti ini, aku menangis sendiri menerima perlakuan kasarmu kepadaku, tapi aku mencintaimu, dan aku tak bisa membalas kemarahanmu.
"lakukan apa yang ingin kau lakukan, kau sudah cukup sangat dewasa, kau sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Teruskan jika menurutmu benar, dan berhenti jika menurutmu salah"
aku terdiam, aku memilih untuk menjauh. Bukan karena aku menyerah pada keadaan, tapi aku tau jika aku mendekatimu, semua perkataanku hanya akan menjadi sampah untukmu.
from hipwee by Wisha Safitri Darmayanti

Manusia Memang Harus Jatuh Dulu. Agar Berdiri di Kaki Sendiri Bukan Lagi Kemustahilan


Siapapun di dunia ini, pasti hidup karena beberapa harapan yang digantungkan serta diciptakan oleh dirinya sendiri. Entah harapan menggapai cita-cita agar hidup lebih baik kedepannya, atau harapan yang digantungkan kepada seseorang yang dianggap mampu menghormati dan menghargai kita. Namun tidak semua orang pantas kita libatkan dalam garis takdir yang kita gambar komplit bersama dengan doa yang dilantunkan setiap waktu kepada yang maha pencipta.
Mata manusia memang tidak di setting untuk bisa melihat bagaimana kehendak tuhan bekerja, kita hanya bisa tahu apa yang memang bisa dipandang mata tanpa bisa mengetahui serta menebak hal apa lagi yang tuhan rencanakan di garis takdir yang kita gambar.
Kita memang menggambar garis sendiri, dan bertanggung jawab penuh atas hidup kita sendiri, namun perlu disadari bahwa yang menggerakkan hati serta pikiran adalah tuhan, mungkin tidak jarang bahwa keinginan dan kebutuhan selalu bertabrakan ingin mendapat prioritas. Namun manusia tidak terlalu peka dengan apa yang di butuhkan, kita terlalu fokus dengan beberapa hal yang kita ingin. Percaya atau tidak keinginan bukanlah keharusan yang perlu di capai hari ini juga, jika merasa itu sebuah keharusan, kita telah mengikuti nafsu yang sebenarnya bisa di rem.
Fokus dengan keinginan yang menggebu menjadikan kita lupa akan esensi sebagai manusia biasa yang kebutuhannya lebih utama perlu di capai. Dalam hal pasangan, kita sering menaruh harapan pasangan ideal dengan segala syarat dan tetekbengek yang kita buat sendiri tanpa berkaca tentang kualitas diri sendiri.
Sebenarnya manusia tidak perlu lagi bertanya, mengapa tuhan selalu saja tidak menghendaki kita, dengan seseorang yang sudah kita targetkan harus menjadi pasangan hidup kita hingga tua nanti. Manusia boleh berencana se detail mungkin dalam hal apapun, namun dilarang lupa bahwa ada tuhan yang selalu mengingatkan mana yang baik dan  mana yang buruk.
Langsung saja...
Jika kita mencintai dan mengharapkan seseorang namun tidak juga dipersatukan, silakan berpikir ulang. Apa yang membuat halangan tersebut terus tumbuh hingga kita tidak pernah bertemu di satu garis yang sama dengan dia. Jika ditelaah lebih dalam lagi, bisa saja kualitas diri nya yang memang belum pantas bersanding dengan kita. Atau sebaliknya. Betapa tuhan sangat baik sudah bersedia mengingatkan hambanya lewat teguran, kekecewaan dan kesedihan yang dirasa. Tidak jarang kita mengumpat dan merasa tuhan tidak adil karena membiarkan kita kecewa dengan segala keadaan hidup yang terjadi. Padahal, tuhan sedang menyelamatkan kita dari jurang yang bisa kapanpun menelan kita hidup-hidup. Namun lagi-lagi manusia tidak sampai berpikir sejauh itu. Semua manusia termasuk saya selalu ingin yang instan. Semua perasaan harus berbalas, begitu lah pikir kita yang masih awam.
Hidup ini pembelajaran. Kita tidak mungkin bisa belajar dari kebahagiaan. Karna luka adalah pembelajaran hidup yang paling setia mengajarkan. Manusia memang harus jatuh dulu untuk paham bahwa hidup ini tidak semudah bertepuk tangan. Kita harus kehilangan 1 tangan terlebih dahulu agar tahu betapa sulitnya mengeluarkan suara tepuk tangan dengan angin.
Namun kita terlalu bodoh jika harus kehilangan dulu baru belajar. Perbaiki yang ada, lindungi yang telah menghargai, jaga kepercayaan, hindari menuntut tuhan untuk mengikuti mau kita. Biarlah tuhan membawa kita kemanapun di mau, kita hanya perlu terus berprasangka baik dan mencoba menggambar garis hidup sesuai aturanNya.
from hipwee by ayu rhaudhotul akmalia

“Hai, Kamu Yang Melepas Tanganku : Bersiaplah Menangis di Sisa Hidupmu”


“Untukmu, Ingatlah! Makna cinta dan perjuangan sebelum kamu dapat mengenggam tanganku”
Apakah kamu tahu? perasaanku ketika untuk pertama kalinya kamu menggenggam tanganku? Yach…Semesta seolah berputar di sekelilingku, dengan rasa bahagia yang memuncak, karena keyakinanmu  padaku, akan perasaan sayangku, cintaku . Aku adalah seseorang yang telah kamu pilih, untuk kamu genggam tangannya, untuk kamu masuki kehidupannya, dan untuk kamu sayangi di sepanjang sisa hidupnya, seseorang yang pastinya mampu membuatmu bahagia. Ingatlah saat-saat dimana kita berbagi pendapat, rencana bahkan impian bersama karena hati kita yang saling menyayangi?  Bukankah, Hati yang menyayangi dan mencintai tidak akan pernah lelah untuk bertahan dan tidak akan pernah menyerah untuk berjuang? Seharusnya hal ini mampu untuk kamu sadari sebelum kamu memulai dan mengakhiri semuanya.
“Untukmu, Ingatlah! ketulusan adalah barang yang sangat mahal harganya, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya”
Ketulusan bagiku adalah kebersamaan kamu dan aku yang dimulai dari rasa saling mencintai, yang dengan berjalannya waktu perasaan itu berkembang dengan berbagai variasinya, perasaan untuk saling menjaga, berkorban, ataupun memiliki. Lewat kekurangan maupun kelebihan yang kamu tunjukkan dari berbagai sisi dirimu yang selalu dapat kuterima. Kamu yang kuterima apa adanya! kamu yang seperti itu! adalah kebahagiaanku, ketulusanku! Apa yang kamu lakukan apa yang aku lakukan, tidak ada kemunafikan diantara kita. Kita saling menguatkan dan bertahan, walaupun jika kamu memutuskan melepas ketulusanku ini, maka sesungguhnya kamu telah kehilangan makna ketulusan yang belum tentu dapat kamu peroleh dari orang lain.
“Untukmu, Ingatlah! Indikator kedewasaan adalah ketika kamu mampu menundukkan gengsi dan egomu”
Rasa cinta, sayang, marah, benci, tangisan, bahkan lelah adalah cara kita untuk menyalurkan perasaan. Namun pernahkah kamu berpikir sedikit saja, bgaimana caramu untuk menyalurkan rasa itu padaku? Seseorang yang kamu cintai? Seseorang yang kamu sayangi?. Aku betul-betul memahami, bahwa sudah fitrah manusia untuk membenarkan dan membela dirinya sendiri, namun apa jadinya jika ditambah dengan bumbu gengsi dan ego yang begitu besar? Untuk kata terimakasih dan maafpun sulit untuk kamu ucapkan? Malah memilih diam dan berlalu tanpa sepatah kata pun? dan beranggapan semuanya telah terselesaikan? dengan apa yang kamu lakukan haruskah kita terus hidup seperti itu? penuh kepura-puraan dan ketidakjujuran…padahal apa adanya, terus terang, keterbukaan bisa menjadi pilihan meski itu membuat kita sakit atau membenci, tetapi itu adalah sesungguhnya kita, kamu dan aku.
“Untukmu, Ingatlah! terkadang untuk mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga di kehidupan, kamu harus membayarnya dengan harga yang mahal atau sesuatu yang sangat berharga”
Jikalau kamu memaksaku pergi tanpa penjelasan, atau memilih untuk menyerah begitu saja,  aku tidak akan berkecil hati. Akan ada suatu masa, di dalam hidupmu, kamu pasti mengingatku! Maka jika hal itu terjadi, yang kuinginkan adalah kamu merasakan sakitnya, sakit yang sama seperti yang kurasakan, yang mampu menghantui harimu, disisa umurmu, tanpaku! Kuharapkan, nantinya kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang akan memberimu pembelajaran tentang bagaimana rasanya penyesalan akan cinta yang telah kamu sia-siakan. Jangan pernah mengharapkan ucapan kebahagiaan untukmu, karena perpisahanpun bisa diakhiri dengan kenangan yang indah, bukan hanya menimbulkan luka.
“Untukmu, Ingatlah! Dengan melepas tanganku, bersiaplah untuk menangis”
Kamu yang telah melepas tanganku, bersiaplah untuk menangis! untuk dilupakan, untuk tak menjadi berharga lagi, untuk menjadi kisah usang, dan untuk menjadi noda kecil di dalam lembaran  hidupku. Kuingin kamu pergi jauh dan  luput dari pandanganku. Aku janjikan bila kisah ini berakhir, akan menjadikanku lebih kuat, lebih tegar, lebih bahagia, lebih tenang, lebih mencintai dan menghargai diriku sendiri, serta menjadi pribadi yang lebih keren dari sebelumnya, sehingga jika suatu saat di sisa umurmu kelak kita dipertemukan lagi, maka kamu akan melihat betapa berharga dan hebatnya diriku, menjadi pribadi lebih hidup dan bahagia daripada ketika bersamamu!!
from hipwee.com by sri fitriyanti

Untukmu Yang Akan Segera Kulepaskan

flying_a_kite_by_deskridge-d7aoyhf

Hei kau, tahukah kau, kau seperti layangan yang benangnya sedang ku genggam, tapi setelah itu ada angin kencang yang berhembus. Sehingga membuat ku ingin  melepaskanmu. Sebelumnya ku coba bertahan, aku coba menggenggammu lebih erat dari sebelumnya, aku takkan membiarkan angin kencang itu merebutmu dariku begitu saja.

Genggam, genggam, dan terus ku genggam, entah beberapa kali ku berusaha. Tapi tiba-tiba ku lihat ke atas ada sesuatu yang berusaha melepaskan diri, iya itu kau. Karena angin  kencang yang berhembus itu , kau malah melepaskan diri , kau masih ku kenggam , tapi tidak seluruhnya, setengahpun tak sampai.
Hei kau, tahukah kau bagaimana susahnya agar kau tetap ku genggam ? selama ini kenyataan terus menyadarkan ku akan semua itu , tapi ku pikir “ah apalah artinya , bisa jadi itu hanya sebuah fatamorgana yang datang mericuh” tapi aku salah. Aku salah. Tak peduli apa yang kulakukan , kau tetap berniat untuk menjadi terlepas dan bebas. Itukah yang kau inginkan selama ini? apakah genggaman ku terlalu kuat hingga membuat mu tak nyaman? maafkan aku atas ketidaknyamanan mu itu.
Beberapa saat terakhir ini aku berjuang sendirian, di hempaskan oleh angin kencang pun aku tetap berjuang sendirian. Harusnya aku sadar bahwa hanya aku lah yang berjuang. Dan bagaimana dengan mu? ketika ku lengah dan  lelah sedikit saja , kau malah  mengambil kesempatan itu untuk segera lepas. Mengapa tak kau katakan dari awal, bahwa kau tak ingin ku genggam? mengapa saat aku sudah merasa bahagia melihatmu di atas sana, malah kau ingin ku lepas genggaman ini?
Layangan itu pergi semakin jauh , meninggalkan sebagian benang yang masih ku genggam erat. Dia semakin jauh, semakin tinggi, dan semakin tak terjangkau. Haruskah ku kejar? haruskah ku berlari menembus angin kencang dan merebut mu kembali? mungkin tak perlu. Aku terlalu lelah. Terlalu lelah berjuang, terlalu lelah menggenggam dan terlalu lelah di hempas.
Inilah saat yang kau tunggu. Inilah saat dimana aku tak punya harapan lagi, dan kau bisa pergi, kau bisa melihat yang lain. Sekarang aku siap melepaskan sebagian benang itu. Tak ada gunanya menggenggam benang tanpa layangan. Sungguh, aku telah lelah dalam permainan layanganmu ini.
Pergilah, aku siap melepaskan mu!
from hipwee.com by maria dwip

Senin, 26 Oktober 2015

22KU



Seorang scorpio bergolongan darah B lahir hari selasa tepat dua puluh dua tahun yang lalu “26 Oktober 1993” ^_^  bercita-cita menjadi seorang guru and finaly in this year (^_^) i get it S.Pd lulus pada 18 Mei 2015 dan diwisuda 22 Agustus 2015,...

Ya Rabb,...
terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau beri selama 22tahun, dalam keheningan malam aku selalu memohon lirih,~~~ “Faghfirlii Maa Qaddamtu, Wa Maa Akhkhrartu, Wa Maa Asrartu Wa Maa A’lantu,... “. Dan meminta kepadaMu,~~~ “ Allaahumma In Kaana Rizqii Fissamaai Faanzilhu, Wa In Kaanafil Ardhi Fa-Akhrijhu Wa In Kaana Mu’assaran Fayassirhu Wa In Kaana Haraaman Fathahhirhu Wa In Kaana Ba’iydan Faqarribhu,...”

Terimakasih yang amat tak terhingga untuk kedua orangtua dan adik, yang selalu medukung dan memenuhi keinginan serta kebutuhanku dan maaf bila sampai detik ini aku belum bisa membahagiakan kalian seutuhnya, rasanya hanya mampu tertunduk malu bila usahaku sampai disini saja, jadi tolong berilah selalu dukungan apapun yang anakmu ini jalani dan tegurlah anakmu ini bila mulai mengabaikan apa yang menjadi priotitasnya,...

Aku cukup tahu diri, aku tidak terlahir dari keluarga berada dengan orang tua yang memiliki ‘pangkat’ namuan aku sangat bahagia terlahir didalam keluarga yang sederhana dan selalu mengajarkan BERSYUKUR itu adalah kunci kebahgiaan. Aku tahu diri bahwa aku harus membangun sebuah jembatan terlebih dahulu untuk bisa menyebrang, membangun tangga terlebih dahulu agar mampu mencapai kesuksesan yang diinginkan. Tidak seperti mereka yang sudah memiliki jembatan serta memiliki pondasi tangga yang siap dibangun. Sekarang mungkin aku masih jalan tertatih terlihat seprti membutuhakan pertolongan,... ya aku memang butuh pertolonganMU ridhoi dan lancarkanlah segala urusan serta usaha yang aku lakukan, jagalah semangatku agar tetap ditempatnya,... aamiin allahuma aamiin

22ku sudah memiliki dia, laki-laki baik yang berani datang kerumahku dan bertemu dengan kedua orangtuaku, semoga dia baik untuk agamaku keluargaku dan untukku walaupun Aku tak ingin mendahului kehendakNYA, aku hanya melalakukan hal yang terbaik yang bisa kulakukan,... 

“Sebisa mungkin meminimalisir rasa rindu,..
rindu untuk bertemu,...
rindu untuk bersatu,...
namun apalah daya jika waktu belum berpihak untuk kita bersatu,...
semoga do’aku selalu mengiringi langkahmu,...
wahai nama yang selalu ada dalam sujudku”

Semoga 22ku menjadikakanku orang yang lebih dewasa, semakin mempersipakan diri dengan dunia yang baru dunia “kerja” atau “pernikahan” tak pernah memasang target hanya ingin lebih memperbaiki diri hingga saatnya datang, entah itukapan semoga datang diwaktu yang tepat, bimbinglah hamba kejalanMU jauhkan hamba dari hal-hal buruk, ridhoi hamba membahagiakan orang tersayang... AAMIIN YAROBAL ALAAMIIN